Kamis, 18 April 2013

Begini Cara Rezim Bashar Merayakan Hari Nasional Suriah

Kemarin, 17 April 2013, adalah Hari Nasional Suriah. Bashar al-Assad menyambutnya dengan wawancara yang disiarkan di televisi pro-rezim Al-Ikhbariyah, yang diisi dengan kegeraman kepada Barat serta memberikan ‘amnesti’ kepada para penjahat dan pengurangan masa tawanan.
 
Pada saat yang bersamaan, pesawat-pesawat tempur rezim terus bergentayangan di langit Suriah dan menjatuhkan bom bersamaan dengan dilontarkannya rudal dan roket ke berbagai sudut negeri itu. Di ujung hari Rabu kemarin, sebanyak 157 orang syahid (Insya Allah), termasuk di antaranya 10 wanita dan 7 anak.

Menurut Local Coordination Committees in Syria (LCC), sebanyak 75 syuhada jatuh di Damascus dan kawasan pinggirannya, terutama di kampung Jdaiydah Artouz; 38 di Homs; 12 di Idlib; 9 di Raqqah; 8 di Dara’a; 7 di Deir Ezzur; 7 di Aleppo dan 1 orang di Hama.

Dicatat pula oleh LCC bahwa rezim Bashar melakukan pengeboman dari pesawat tempur terutama MIG di 16 titik. Bom ‘gentong’ mereka jatuhkan di 2 titik. Penembakkan dengan rudal Scud dilakukan ke arah Izzaz di Aleppo, di Homs dan di Qutaifah. Penyerangan dengan rudal surface-to-surface dilakukan di Mayadeen di Deir Ezzur, di kawasan utara Aleppo, dan di timur Buwaidah di Homs.

Pasukan rezim menjatuhkan bom fosfor serta penembakkan dengan senjata gas beracun di Jaz’ah, Ain Tarma dan Jobar. Penyerangan dengan roket terjadi di 42 titik di berbagai kawasan Suriah.

Sementara itu, para pejuang pembebasan Suriah atau Jaysul Hurr/FSA (Free Syrian Army) diberitakan berhasil mengambil alih pangkalan udara militer Daba’ah di Homs dan merebut persenjataan rezim termasuk 2 tanks serta membunuh belasan syabihah rezim, komandannya dan 10 tentara Hizb*** di lokasi itu.

21 Anak Tewas dalam Satu Hari

Jumlah korban yang 157 orang dalam sehari kemarin, Rabu 17 April, lebih tinggi daripada hari sebelumnya.

Pada hari Selasa 16 April, jatuh korban sebanyak 119 orang di seluruh Suriah, termasuk 19 wanita, 21 anak, dan 3 orang warga yang ditemukan tewas karena disiksa rezim.

Sebanyak 49 syuhada jatuh di Aleppo. Ini di luar 31 jenazah yang sudah mulai membusuk yang dikumpulkan oleh Palang Merah Suriah di berbagai titik kota Aleppo pada hari Selasa itu. Sebagian dari jenazah itu adalah korban para snipers rezim yang tidak bisa diangkat oleh masyarakat karena bisa saja ganti mereka yang ditarget. Beberapa jenazah ditemukan dalam keadaan hangus terbakar sehingga tak bisa dikenali lagi, dan beberapa lagi ditemukan dalam keadaan tangan dan kaki terikat – bukti bahwa mereka meninggal karena disiksa.

Pada hari Senin, 15 April, LCC mendokumentasi jatuhnya 75 orang syuhada (Insya Allah) di seluruh Suriah, termasuk 7 wanita dan 4 orang anak dan 1 orang yang tewas karena disiksa. Sebanyak 47 syuhada dicatat di Damascus dan kawasan pinggirannya, terutama di Douma. Sebanyak 9 orang di Aleppo, 7 di Dara’a, 5 di Idlib, 3 di Deir Ezzur, 3 di Homs dan 1 di Hama.
Di penghujung hari Ahad, 14 April, sebanyak 124 warga Suriah menjadi syuhada (Insya Allah), termasuk 18 orang anak, 7 wanita dan 6 orang warga yang tewas disiksa. Sebanyak 34 orang yang syahid ada di Damascus dan kawasan pinggirannya; 20 di Hasakah, terutama di Tal Haddad; 19 di Idlib; 18 di Homs; 8 di Dara’a; 4 di Raqqah; 2 di Deir Ezzur dan 1 di Hama. 157 + 119 + 75 + 124  = 475 orang syuhada dalam 4 hari di Suriah.
Apakah mereka akan hanya menjadi statistik mati yang tak menggugah hati Ummat?

http://sahabatsuriah.com/
 

Minggu, 14 April 2013

Kurang Bukti Apa Lagi? Pasukan Bashar Gunakan Bom Gas Beracun di Aleppo

Dibutuhkan waktu berbulan-bulan bagi Amerika, Inggris dan berbagai negara Barat lainnya untuk mengakui kebenaran pernyataan warga Suriah bahwa rezim Bashar al-Assad menggunakan senjata-senjata kimia terhadap rakyatnya sendiri. Bahkan PBB pun sampai minggu lalu masih menyatakan bahwa mereka masih membutuhkan bukti sebelum bertindak dan mengirimkan tim investigasi ke Suriah – yang tentu saja ditolak  oleh Bashar al-Assad.
Baru kemarin, Sabtu 13 April 2013, salah satu media Inggris, The Times of London, melaporkan bahwa benar Bashar al-Assad menggunakan senjata kimia untuk membunuhi rakyatnya, sesudah dilakukannya operasi menyelundupkan ‘sampel tanah Suriah’ ke Inggris untuk diteliti  para ilmuwan Inggris.
Harian itu mengutip sumber-sumber pertahanan Inggris yang tidak disebut namanya  yang mengatakan, “sejenis senjata kimia” dipakai di Suriah tapi tidak bisa memastikan apakah digunakan oleh rezim Bashar atau oleh para pejuang.
Penggunaan WMD (Weapons of Mass Destruction) berupa senjata kimia ini dipastikan oleh instalasi riset kimiawi dan biologi milik Kementerian Pertahanan Britania di Porton Down, Wiltshire.
Sudah 100 Ribu
Sementara itu, berbagai sumber pemberitaan para pejuang pembebasan dan pihak oposisi Suriah kini mulai meletakkan jumlah korban kekejaman rezim Bashar al-Assad di angka 100 ribu. Sampai bulan lalu, mereka hanya mengatakan “di atas 70 ribu” sama seperti yang dilakukan oleh PBB.
Termasuk dalam angka kematian itu adalah seorang wanita dan dua anak yang tewas di Aleppo kemarin, Sabtu 13 April, ketika pasukan rezim Bashar al-Assad menjatuhkan dua bom gas beracun ke kota Afrin di propinsi itu.
Menurut Rami Abdurrahman, kepala Syrian Observatory for Human Rights yang berbasis di Inggris, sejumlah saksi mengatakan bahwa bom-bom itu dijatuhkan dari sebuah helikopter tentara Bashar al-Assad.
Sebanyak 16 orang luka-luka karena bom gas yang sama, dan mereka dibawa ke rumah sakit dalam keadaan “berhalusinasi, muntah-muntah, mengeluarkan lendir yang banyak dan merasa mata mereka terbakar.”
Sementara itu, tim pakar PBB saat ini masih berada di Cyprus menunggu “izin” masuk Suriah dari pemerintahan Bashar al-Assad untuk menginvestigasi setidaknya tiga tuduhan penyerangan dengan senjata kimia – termasuk satu serangan yang menurut rezim adalah yang dilakukan oleh para “pemberontak.”

http://sahabatsuriah.com/
 

Suriah, Masa depan Gaza dan ancaman kebangkitan Syiah

Saat Saddam Husein tumbang, segera Irak mengadakan revolusi politik dengan dukungan Amerika Serikat (AS). Pemerintahan baru didominasi Syiah. PM baru, Mari al-Maliki, adalah penganut Syiah. Sementara Sunni makin terdesak. Bagi Iran, pemerintahan baru Irak merupakan tanda awal kebangkitan Syiah di Timur Tengah. Banyaknya ulama Sunni yang dieksekusi di Irak menunjukkan revolusi politik yang didukung Iran tersebut bukan kemenangan Islam, tapi kemenangan Syiah dengan dukungan penjajah AS.
Tampaknya, dalam kasus Irak ini, AS lebih menyukai Irak dipimpin Syiah daripada Saddam Husein yang Sunni. Invasi AS ke Irak tahun 2003 kabarnya direstui Iran. Sebab, Irak akan dipersiakan dipimpin dari kaum Syiah. Tidak dipungkiri ada faksi-faksi Syiah yang menentang AS. Hanya saja, perlawanan tidak terlalu signifikan jika dibandingkan pejuang-pejuang Sunni. Jatuhnya Sunni Irak, menjadi keuntungan bersama antara AS dan Iran. Iran, sejak revolusi tahun 1979, sangat berambisi mensyiahkan Irak, sebagai pintu masuk syiahisasi di dunia Arab.
Vali Nasr menganalisis bahwa kemengangan Syiah di Irak merupakan menambah pilar kebangkitan Syiah di Arab. Ia menyebut ada tiga pilar kebangkitan Syiah, Pertama, kemenangan Syiah di Irak, Kedua, pencitraan Iran sebagai pemimpin Arab melawan arus Barat dan Ketiga, dominasi pengaruh Syiah di beberapa Negara, yaitu Lebanon, Saudi, Kuwait, UEA dan Pakistan.
Kini, pilar pertama dan kedua sudah ditangan Iran. Hanya pilar ketiga, Syiah belum menunjukkan kemenangan. Sekarang inilah, Syiah sedang menggarap pilar ketiga. Pasca revolusi Iran tahun 1979, Iran meletakkan Hizbullah di Lebanon, sebagai basis membangun pilar ketiga. Awalnya, Hizbullah adalah sayap Garda Revolusi Iran, pasukan elit pengawal revolusi Iran yang terkenal tangguh. Di Libanon, Hizbullah sukeses mengangkat citra Syiah dan Iran di dunia Islam. Terutama saat tahun 80-an berhasil membunuh seribu lebih tentara Israel.
Namun, kesuksesan Hizbullah tercoreng karena mereka terlibat sengketa dengan Sunni Lebanon, bahkan pernah dengan pengungsi Palestina di Lebanon. Jika benar-benar, berjuang untuk Islam, kenapa Hizbullah berseteru dengan Sunni Lebanon? Bantuan Iran, menjadikan Hizbullah menjadi tentara tangguh, bahkan militer pemerintah Lebanon kalah kuat.
Geliat gerakan Syiah makin mencolok di Timur Tengah setahun ini, yaitu saat berkecamuk perang saudara di Suriah. Presiden Suriah, Bashar Asad, yang berpaham Syiah Nushairiyah konon mendapat dukungan  dari Iran melawan rakyatnya sendiri yang mayoritas Sunni. Syiah Nushairiyah adalah pecahan sekte Syiah Ismailiyah, sekte Syiah yang pernah mendirikan dinasti Fatimiyah di Mesir.
Perang saudara di Suriah yang kini masih berkecamuk ternyata bukan hanya sengketa politik, tapi juga ideologis. Krisis Suriah juga membangkitan kaum Syiah di Indonesia. Beberapa bulan lalu di Bandung, Garda Kemanusiaan (GK), dikabarkan berencana mengirim relawan ke Suriah. GK yang diindikasi berpaham Syiah berniat membantu diktator Bashar Asad. Ini tentu mengejutkan, sebab semua aktivis Islam menyeru pengiriman relawan kemanusiaan ke Suriah untuk membantu korabn rakyat yang sedang didzalami Bashar Asad. GK menunukkan kepada kita bahwa memang Syiah sedang menggeliat mempersiapkan kebangkitan.
Mencermati sikap politik Iran terhadap krisis Suriah, kita bisa menyimpulkan bahwa Suriah sedang dipersiapkan untuk menjadi Negara Syiah kedua di Arab setelah Irak. Meski berbeda sekte – Suriah berpaham Syiah Nushariyah dan Iran berpaham Syiah Imamiyah, namun dua sekte ini dikategorikan sama-sama Rafidhah. Yang terkenal ekstrim dan militant itu.
Kondisi Suriah hampir sama dengan Irak. Kaum Sunni terus dibantai oleh tentara Suriah. Jika Suriah dan Irak tetapi dikendalikan Syiah, maka dua Negara ini akan menjadi ancaman besar bagi Negara-negara Arab.
Ambisi Iran untuk menjadikan Iran pemimpin dunia Islam sangat ambisius. Ayatullah Khomeini, pemimpin besar revolusi Iran, sudah mentitahkan agar mengekspor revolusinya ke Negara-negar Arab dan Islam di dunia.
Ia sadar bahwa resistensi kaum Sunni sangat besar terhadap Syiah. Maka, Khomeini membuat strategi. Dua di antaranya adalah mencitrakan diri sebagai icon perlawanan terhadap Israel dan Barat dan kedua menggunakan metode taqrib (pendekatan madzhab).
Icon perlawan Khomeini terhadap terhadap Israel dan AS masih sulit dirasionalkan. Alasannya, Ayatullah Khomeini sendiri sebelum revolusi sebenarnya tidak terlalu resisten di Barat. Puluhan tahun  bahkan sejak remaja ia hidup di Prancis, termasuk di masa pengasingan saat Reza Pahlevi memimpin Iran. Baru menjelang revolusi ia pulang ke Iran.  Guru Khomeini sendiri yaitu Ayatullah al-Kashani disebut-sebut adalah agen CIA. Meski Reza Pahlevi, pro-AS, namun kabarnya CIA terlibat dalam revolusi Iran. Selama perang Irak-Iran, Iran diam-diam membeli senjata ke Israel dengan bantuan AS. Kasus ini terkenal dengan “Iran-Gate”.
Sebutan “AS adalah Setan Besar” dari Iran sama sekali tidak membangkitkan AS untuk menginvasi Iran. Padahal Iran sendiri juga menyimpan senjata Nuklir. Bandingkan dengan invasi AS ke Afganistan dan Irak. AS cukup berbekal asumsi, tidak bukti, untuk menyerang kedua Negara itu. Irak dituduh menyimpan senjata kimia. Belakangan tuduhan tidak terbukti. Afganistan diserang tanpa ba bi bu dengan tuduhan melindungi Osama bin Laden.
Ketika pecah perang Irak-Iran selama 8 tahun. Iran mendapatkan keuntungan politis. Pasca perang panjang itu, Irak langsung dimusuhi AS. Bahkan Negara-negara Arab juga terprovokasi Barat memusuhi Irak. Padahal Irak, paling berani melawan Israel. Beberapa rudal Scud-nya mendarat di Tel Aviv, ibukota Israel. Kenyataannya sekarang, Iran tidak pernah terlibat perang langsung dengan AS.
Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa bantuan-bantuan Iran terhadap Negara-negara Muslim tidak gratis. Sebab di balik bantuan tersebut mereka membawa misi Syiah. Di Palestina, HAMAS, mungkin saja ‘terpaksa’ dibantu Iran melawan Israel. Namun, jika rasio kita menganalisis sepak terjang gerakan politik Iran seperti di atas, maka bantuan itu tidak gratis. Ada misi besar. Yaitu, seperti kata Vali Nasr, menarik simpati untuk membangun imperium Syiah di Timur Tengah. Irak telah menjadi Syiah, berikutnya siapa lagi…? Yang jelas, lembar sejarah Islam tidak pernah lupa bahwa di Perang Salib II, Syiah berkhianat melemahkan tentara Islam. Maka, Gaza-Palestina tidak boleh jatuh ke tangan Israel dan Syiah. Kita ingin Gaza-Paletina di pangkuan Islam.
Oleh : Kholili Hasib
Anggota Majelis Intelektual Dan Ulama Muda Indonesia Daerah Jawa Timur

Sumber: Undergroundtauhid.com
(saifalbattar/arrahmah.com)

Oleh : Kholili Hasib
 Anggota Majelis Intelektual Dan Ulama Muda Indonesia Daerah Jawa Timur
(Arrahmah.com) - Saat Saddam Husein tumbang, segera Irak mengadakan revolusi politik dengan dukungan Amerika Serikat (AS). Pemerintahan baru didominasi Syiah. PM baru, Mari al-Maliki, adalah penganut Syiah. Sementara Sunni makin terdesak. Bagi Iran, pemerintahan baru Irak merupakan tanda awal kebangkitan Syiah di Timur Tengah. Banyaknya ulama Sunni yang dieksekusi di Irak menunjukkan revolusi politik yang didukung Iran tersebut bukan kemenangan Islam, tapi kemenangan Syiah dengan dukungan penjajah AS.
Tampaknya, dalam kasus Irak ini, AS lebih menyukai Irak dipimpin Syiah daripada Saddam Husein yang Sunni. Invasi AS ke Irak tahun 2003 kabarnya direstui Iran. Sebab, Irak akan dipersiakan dipimpin dari kaum Syiah. Tidak dipungkiri ada faksi-faksi Syiah yang menentang AS. Hanya saja, perlawanan tidak terlalu signifikan jika dibandingkan pejuang-pejuang Sunni. Jatuhnya Sunni Irak, menjadi keuntungan bersama antara AS dan Iran. Iran, sejak revolusi tahun 1979, sangat berambisi mensyiahkan Irak, sebagai pintu masuk syiahisasi di dunia Arab.
Vali Nasr menganalisis bahwa kemengangan Syiah di Irak merupakan menambah pilar kebangkitan Syiah di Arab. Ia menyebut ada tiga pilar kebangkitan Syiah, Pertama, kemenangan Syiah di Irak, Kedua, pencitraan Iran sebagai pemimpin Arab melawan arus Barat dan Ketiga, dominasi pengaruh Syiah di beberapa Negara, yaitu Lebanon, Saudi, Kuwait, UEA dan Pakistan.
Kini, pilar pertama dan kedua sudah ditangan Iran. Hanya pilar ketiga, Syiah belum menunjukkan kemenangan. Sekarang inilah, Syiah sedang menggarap pilar ketiga. Pasca revolusi Iran tahun 1979, Iran meletakkan Hizbullah di Lebanon, sebagai basis membangun pilar ketiga. Awalnya, Hizbullah adalah sayap Garda Revolusi Iran, pasukan elit pengawal revolusi Iran yang terkenal tangguh. Di Libanon, Hizbullah sukeses mengangkat citra Syiah dan Iran di dunia Islam. Terutama saat tahun 80-an berhasil membunuh seribu lebih tentara Israel.
Namun, kesuksesan Hizbullah tercoreng karena mereka terlibat sengketa dengan Sunni Lebanon, bahkan pernah dengan pengungsi Palestina di Lebanon. Jika benar-benar, berjuang untuk Islam, kenapa Hizbullah berseteru dengan Sunni Lebanon? Bantuan Iran, menjadikan Hizbullah menjadi tentara tangguh, bahkan militer pemerintah Lebanon kalah kuat.
Geliat gerakan Syiah makin mencolok di Timur Tengah setahun ini, yaitu saat berkecamuk perang saudara di Suriah. Presiden Suriah, Bashar Asad, yang berpaham Syiah Nushairiyah konon mendapat dukungan  dari Iran melawan rakyatnya sendiri yang mayoritas Sunni. Syiah Nushairiyah adalah pecahan sekte Syiah Ismailiyah, sekte Syiah yang pernah mendirikan dinasti Fatimiyah di Mesir.
Perang saudara di Suriah yang kini masih berkecamuk ternyata bukan hanya sengketa politik, tapi juga ideologis. Krisis Suriah juga membangkitan kaum Syiah di Indonesia. Beberapa bulan lalu di Bandung, Garda Kemanusiaan (GK), dikabarkan berencana mengirim relawan ke Suriah. GK yang diindikasi berpaham Syiah berniat membantu diktator Bashar Asad. Ini tentu mengejutkan, sebab semua aktivis Islam menyeru pengiriman relawan kemanusiaan ke Suriah untuk membantu korabn rakyat yang sedang didzalami Bashar Asad. GK menunukkan kepada kita bahwa memang Syiah sedang menggeliat mempersiapkan kebangkitan.
Mencermati sikap politik Iran terhadap krisis Suriah, kita bisa menyimpulkan bahwa Suriah sedang dipersiapkan untuk menjadi Negara Syiah kedua di Arab setelah Irak. Meski berbeda sekte – Suriah berpaham Syiah Nushariyah dan Iran berpaham Syiah Imamiyah, namun dua sekte ini dikategorikan sama-sama Rafidhah. Yang terkenal ekstrim dan militant itu.
Kondisi Suriah hampir sama dengan Irak. Kaum Sunni terus dibantai oleh tentara Suriah. Jika Suriah dan Irak tetapi dikendalikan Syiah, maka dua Negara ini akan menjadi ancaman besar bagi Negara-negara Arab.
Ambisi Iran untuk menjadikan Iran pemimpin dunia Islam sangat ambisius. Ayatullah Khomeini, pemimpin besar revolusi Iran, sudah mentitahkan agar mengekspor revolusinya ke Negara-negar Arab dan Islam di dunia.
Ia sadar bahwa resistensi kaum Sunni sangat besar terhadap Syiah. Maka, Khomeini membuat strategi. Dua di antaranya adalah mencitrakan diri sebagai icon perlawanan terhadap Israel dan Barat dan kedua menggunakan metode taqrib (pendekatan madzhab).
Icon perlawan Khomeini terhadap terhadap Israel dan AS masih sulit dirasionalkan. Alasannya, Ayatullah Khomeini sendiri sebelum revolusi sebenarnya tidak terlalu resisten di Barat. Puluhan tahun  bahkan sejak remaja ia hidup di Prancis, termasuk di masa pengasingan saat Reza Pahlevi memimpin Iran. Baru menjelang revolusi ia pulang ke Iran.  Guru Khomeini sendiri yaitu Ayatullah al-Kashani disebut-sebut adalah agen CIA. Meski Reza Pahlevi, pro-AS, namun kabarnya CIA terlibat dalam revolusi Iran. Selama perang Irak-Iran, Iran diam-diam membeli senjata ke Israel dengan bantuan AS. Kasus ini terkenal dengan “Iran-Gate”.
Sebutan “AS adalah Setan Besar” dari Iran sama sekali tidak membangkitkan AS untuk menginvasi Iran. Padahal Iran sendiri juga menyimpan senjata Nuklir. Bandingkan dengan invasi AS ke Afganistan dan Irak. AS cukup berbekal asumsi, tidak bukti, untuk menyerang kedua Negara itu. Irak dituduh menyimpan senjata kimia. Belakangan tuduhan tidak terbukti. Afganistan diserang tanpa ba bi bu dengan tuduhan melindungi Osama bin Laden.
Ketika pecah perang Irak-Iran selama 8 tahun. Iran mendapatkan keuntungan politis. Pasca perang panjang itu, Irak langsung dimusuhi AS. Bahkan Negara-negara Arab juga terprovokasi Barat memusuhi Irak. Padahal Irak, paling berani melawan Israel. Beberapa rudal Scud-nya mendarat di Tel Aviv, ibukota Israel. Kenyataannya sekarang, Iran tidak pernah terlibat perang langsung dengan AS.
Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa bantuan-bantuan Iran terhadap Negara-negara Muslim tidak gratis. Sebab di balik bantuan tersebut mereka membawa misi Syiah. Di Palestina, HAMAS, mungkin saja ‘terpaksa’ dibantu Iran melawan Israel. Namun, jika rasio kita menganalisis sepak terjang gerakan politik Iran seperti di atas, maka bantuan itu tidak gratis. Ada misi besar. Yaitu, seperti kata Vali Nasr, menarik simpati untuk membangun imperium Syiah di Timur Tengah. Irak telah menjadi Syiah, berikutnya siapa lagi…? Yang jelas, lembar sejarah Islam tidak pernah lupa bahwa di Perang Salib II, Syiah berkhianat melemahkan tentara Islam. Maka, Gaza-Palestina tidak boleh jatuh ke tangan Israel dan Syiah. Kita ingin Gaza-Paletina di pangkuan Islam
Sumber: Undergroundtauhid.com
(saifalbattar/arrahmah.com)
- See more at: http://www.arrahmah.com/kajian-islam/suriah-masa-depan-gaza-dan-ancaman-kebangkitan-syiah.html#sthash.bzJUQDK3.dpuf
Oleh : Kholili Hasib
 Anggota Majelis Intelektual Dan Ulama Muda Indonesia Daerah Jawa Timur
(Arrahmah.com) - Saat Saddam Husein tumbang, segera Irak mengadakan revolusi politik dengan dukungan Amerika Serikat (AS). Pemerintahan baru didominasi Syiah. PM baru, Mari al-Maliki, adalah penganut Syiah. Sementara Sunni makin terdesak. Bagi Iran, pemerintahan baru Irak merupakan tanda awal kebangkitan Syiah di Timur Tengah. Banyaknya ulama Sunni yang dieksekusi di Irak menunjukkan revolusi politik yang didukung Iran tersebut bukan kemenangan Islam, tapi kemenangan Syiah dengan dukungan penjajah AS.
Tampaknya, dalam kasus Irak ini, AS lebih menyukai Irak dipimpin Syiah daripada Saddam Husein yang Sunni. Invasi AS ke Irak tahun 2003 kabarnya direstui Iran. Sebab, Irak akan dipersiakan dipimpin dari kaum Syiah. Tidak dipungkiri ada faksi-faksi Syiah yang menentang AS. Hanya saja, perlawanan tidak terlalu signifikan jika dibandingkan pejuang-pejuang Sunni. Jatuhnya Sunni Irak, menjadi keuntungan bersama antara AS dan Iran. Iran, sejak revolusi tahun 1979, sangat berambisi mensyiahkan Irak, sebagai pintu masuk syiahisasi di dunia Arab.
Vali Nasr menganalisis bahwa kemengangan Syiah di Irak merupakan menambah pilar kebangkitan Syiah di Arab. Ia menyebut ada tiga pilar kebangkitan Syiah, Pertama, kemenangan Syiah di Irak, Kedua, pencitraan Iran sebagai pemimpin Arab melawan arus Barat dan Ketiga, dominasi pengaruh Syiah di beberapa Negara, yaitu Lebanon, Saudi, Kuwait, UEA dan Pakistan.
Kini, pilar pertama dan kedua sudah ditangan Iran. Hanya pilar ketiga, Syiah belum menunjukkan kemenangan. Sekarang inilah, Syiah sedang menggarap pilar ketiga. Pasca revolusi Iran tahun 1979, Iran meletakkan Hizbullah di Lebanon, sebagai basis membangun pilar ketiga. Awalnya, Hizbullah adalah sayap Garda Revolusi Iran, pasukan elit pengawal revolusi Iran yang terkenal tangguh. Di Libanon, Hizbullah sukeses mengangkat citra Syiah dan Iran di dunia Islam. Terutama saat tahun 80-an berhasil membunuh seribu lebih tentara Israel.
Namun, kesuksesan Hizbullah tercoreng karena mereka terlibat sengketa dengan Sunni Lebanon, bahkan pernah dengan pengungsi Palestina di Lebanon. Jika benar-benar, berjuang untuk Islam, kenapa Hizbullah berseteru dengan Sunni Lebanon? Bantuan Iran, menjadikan Hizbullah menjadi tentara tangguh, bahkan militer pemerintah Lebanon kalah kuat.
Geliat gerakan Syiah makin mencolok di Timur Tengah setahun ini, yaitu saat berkecamuk perang saudara di Suriah. Presiden Suriah, Bashar Asad, yang berpaham Syiah Nushairiyah konon mendapat dukungan  dari Iran melawan rakyatnya sendiri yang mayoritas Sunni. Syiah Nushairiyah adalah pecahan sekte Syiah Ismailiyah, sekte Syiah yang pernah mendirikan dinasti Fatimiyah di Mesir.
Perang saudara di Suriah yang kini masih berkecamuk ternyata bukan hanya sengketa politik, tapi juga ideologis. Krisis Suriah juga membangkitan kaum Syiah di Indonesia. Beberapa bulan lalu di Bandung, Garda Kemanusiaan (GK), dikabarkan berencana mengirim relawan ke Suriah. GK yang diindikasi berpaham Syiah berniat membantu diktator Bashar Asad. Ini tentu mengejutkan, sebab semua aktivis Islam menyeru pengiriman relawan kemanusiaan ke Suriah untuk membantu korabn rakyat yang sedang didzalami Bashar Asad. GK menunukkan kepada kita bahwa memang Syiah sedang menggeliat mempersiapkan kebangkitan.
Mencermati sikap politik Iran terhadap krisis Suriah, kita bisa menyimpulkan bahwa Suriah sedang dipersiapkan untuk menjadi Negara Syiah kedua di Arab setelah Irak. Meski berbeda sekte – Suriah berpaham Syiah Nushariyah dan Iran berpaham Syiah Imamiyah, namun dua sekte ini dikategorikan sama-sama Rafidhah. Yang terkenal ekstrim dan militant itu.
Kondisi Suriah hampir sama dengan Irak. Kaum Sunni terus dibantai oleh tentara Suriah. Jika Suriah dan Irak tetapi dikendalikan Syiah, maka dua Negara ini akan menjadi ancaman besar bagi Negara-negara Arab.
Ambisi Iran untuk menjadikan Iran pemimpin dunia Islam sangat ambisius. Ayatullah Khomeini, pemimpin besar revolusi Iran, sudah mentitahkan agar mengekspor revolusinya ke Negara-negar Arab dan Islam di dunia.
Ia sadar bahwa resistensi kaum Sunni sangat besar terhadap Syiah. Maka, Khomeini membuat strategi. Dua di antaranya adalah mencitrakan diri sebagai icon perlawanan terhadap Israel dan Barat dan kedua menggunakan metode taqrib (pendekatan madzhab).
Icon perlawan Khomeini terhadap terhadap Israel dan AS masih sulit dirasionalkan. Alasannya, Ayatullah Khomeini sendiri sebelum revolusi sebenarnya tidak terlalu resisten di Barat. Puluhan tahun  bahkan sejak remaja ia hidup di Prancis, termasuk di masa pengasingan saat Reza Pahlevi memimpin Iran. Baru menjelang revolusi ia pulang ke Iran.  Guru Khomeini sendiri yaitu Ayatullah al-Kashani disebut-sebut adalah agen CIA. Meski Reza Pahlevi, pro-AS, namun kabarnya CIA terlibat dalam revolusi Iran. Selama perang Irak-Iran, Iran diam-diam membeli senjata ke Israel dengan bantuan AS. Kasus ini terkenal dengan “Iran-Gate”.
Sebutan “AS adalah Setan Besar” dari Iran sama sekali tidak membangkitkan AS untuk menginvasi Iran. Padahal Iran sendiri juga menyimpan senjata Nuklir. Bandingkan dengan invasi AS ke Afganistan dan Irak. AS cukup berbekal asumsi, tidak bukti, untuk menyerang kedua Negara itu. Irak dituduh menyimpan senjata kimia. Belakangan tuduhan tidak terbukti. Afganistan diserang tanpa ba bi bu dengan tuduhan melindungi Osama bin Laden.
Ketika pecah perang Irak-Iran selama 8 tahun. Iran mendapatkan keuntungan politis. Pasca perang panjang itu, Irak langsung dimusuhi AS. Bahkan Negara-negara Arab juga terprovokasi Barat memusuhi Irak. Padahal Irak, paling berani melawan Israel. Beberapa rudal Scud-nya mendarat di Tel Aviv, ibukota Israel. Kenyataannya sekarang, Iran tidak pernah terlibat perang langsung dengan AS.
Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa bantuan-bantuan Iran terhadap Negara-negara Muslim tidak gratis. Sebab di balik bantuan tersebut mereka membawa misi Syiah. Di Palestina, HAMAS, mungkin saja ‘terpaksa’ dibantu Iran melawan Israel. Namun, jika rasio kita menganalisis sepak terjang gerakan politik Iran seperti di atas, maka bantuan itu tidak gratis. Ada misi besar. Yaitu, seperti kata Vali Nasr, menarik simpati untuk membangun imperium Syiah di Timur Tengah. Irak telah menjadi Syiah, berikutnya siapa lagi…? Yang jelas, lembar sejarah Islam tidak pernah lupa bahwa di Perang Salib II, Syiah berkhianat melemahkan tentara Islam. Maka, Gaza-Palestina tidak boleh jatuh ke tangan Israel dan Syiah. Kita ingin Gaza-Paletina di pangkuan Islam
Sumber: Undergroundtauhid.com
(saifalbattar/arrahmah.com)
- See more at: http://www.arrahmah.com/kajian-islam/suriah-masa-depan-gaza-dan-ancaman-kebangkitan-syiah.html#sthash.bzJUQDK3.dpuf
Oleh : Kholili Hasib
 Anggota Majelis Intelektual Dan Ulama Muda Indonesia Daerah Jawa Timur
(Arrahmah.com) - Saat Saddam Husein tumbang, segera Irak mengadakan revolusi politik dengan dukungan Amerika Serikat (AS). Pemerintahan baru didominasi Syiah. PM baru, Mari al-Maliki, adalah penganut Syiah. Sementara Sunni makin terdesak. Bagi Iran, pemerintahan baru Irak merupakan tanda awal kebangkitan Syiah di Timur Tengah. Banyaknya ulama Sunni yang dieksekusi di Irak menunjukkan revolusi politik yang didukung Iran tersebut bukan kemenangan Islam, tapi kemenangan Syiah dengan dukungan penjajah AS.
Tampaknya, dalam kasus Irak ini, AS lebih menyukai Irak dipimpin Syiah daripada Saddam Husein yang Sunni. Invasi AS ke Irak tahun 2003 kabarnya direstui Iran. Sebab, Irak akan dipersiakan dipimpin dari kaum Syiah. Tidak dipungkiri ada faksi-faksi Syiah yang menentang AS. Hanya saja, perlawanan tidak terlalu signifikan jika dibandingkan pejuang-pejuang Sunni. Jatuhnya Sunni Irak, menjadi keuntungan bersama antara AS dan Iran. Iran, sejak revolusi tahun 1979, sangat berambisi mensyiahkan Irak, sebagai pintu masuk syiahisasi di dunia Arab.
Vali Nasr menganalisis bahwa kemengangan Syiah di Irak merupakan menambah pilar kebangkitan Syiah di Arab. Ia menyebut ada tiga pilar kebangkitan Syiah, Pertama, kemenangan Syiah di Irak, Kedua, pencitraan Iran sebagai pemimpin Arab melawan arus Barat dan Ketiga, dominasi pengaruh Syiah di beberapa Negara, yaitu Lebanon, Saudi, Kuwait, UEA dan Pakistan.
Kini, pilar pertama dan kedua sudah ditangan Iran. Hanya pilar ketiga, Syiah belum menunjukkan kemenangan. Sekarang inilah, Syiah sedang menggarap pilar ketiga. Pasca revolusi Iran tahun 1979, Iran meletakkan Hizbullah di Lebanon, sebagai basis membangun pilar ketiga. Awalnya, Hizbullah adalah sayap Garda Revolusi Iran, pasukan elit pengawal revolusi Iran yang terkenal tangguh. Di Libanon, Hizbullah sukeses mengangkat citra Syiah dan Iran di dunia Islam. Terutama saat tahun 80-an berhasil membunuh seribu lebih tentara Israel.
Namun, kesuksesan Hizbullah tercoreng karena mereka terlibat sengketa dengan Sunni Lebanon, bahkan pernah dengan pengungsi Palestina di Lebanon. Jika benar-benar, berjuang untuk Islam, kenapa Hizbullah berseteru dengan Sunni Lebanon? Bantuan Iran, menjadikan Hizbullah menjadi tentara tangguh, bahkan militer pemerintah Lebanon kalah kuat.
Geliat gerakan Syiah makin mencolok di Timur Tengah setahun ini, yaitu saat berkecamuk perang saudara di Suriah. Presiden Suriah, Bashar Asad, yang berpaham Syiah Nushairiyah konon mendapat dukungan  dari Iran melawan rakyatnya sendiri yang mayoritas Sunni. Syiah Nushairiyah adalah pecahan sekte Syiah Ismailiyah, sekte Syiah yang pernah mendirikan dinasti Fatimiyah di Mesir.
Perang saudara di Suriah yang kini masih berkecamuk ternyata bukan hanya sengketa politik, tapi juga ideologis. Krisis Suriah juga membangkitan kaum Syiah di Indonesia. Beberapa bulan lalu di Bandung, Garda Kemanusiaan (GK), dikabarkan berencana mengirim relawan ke Suriah. GK yang diindikasi berpaham Syiah berniat membantu diktator Bashar Asad. Ini tentu mengejutkan, sebab semua aktivis Islam menyeru pengiriman relawan kemanusiaan ke Suriah untuk membantu korabn rakyat yang sedang didzalami Bashar Asad. GK menunukkan kepada kita bahwa memang Syiah sedang menggeliat mempersiapkan kebangkitan.
Mencermati sikap politik Iran terhadap krisis Suriah, kita bisa menyimpulkan bahwa Suriah sedang dipersiapkan untuk menjadi Negara Syiah kedua di Arab setelah Irak. Meski berbeda sekte – Suriah berpaham Syiah Nushariyah dan Iran berpaham Syiah Imamiyah, namun dua sekte ini dikategorikan sama-sama Rafidhah. Yang terkenal ekstrim dan militant itu.
Kondisi Suriah hampir sama dengan Irak. Kaum Sunni terus dibantai oleh tentara Suriah. Jika Suriah dan Irak tetapi dikendalikan Syiah, maka dua Negara ini akan menjadi ancaman besar bagi Negara-negara Arab.
Ambisi Iran untuk menjadikan Iran pemimpin dunia Islam sangat ambisius. Ayatullah Khomeini, pemimpin besar revolusi Iran, sudah mentitahkan agar mengekspor revolusinya ke Negara-negar Arab dan Islam di dunia.
Ia sadar bahwa resistensi kaum Sunni sangat besar terhadap Syiah. Maka, Khomeini membuat strategi. Dua di antaranya adalah mencitrakan diri sebagai icon perlawanan terhadap Israel dan Barat dan kedua menggunakan metode taqrib (pendekatan madzhab).
Icon perlawan Khomeini terhadap terhadap Israel dan AS masih sulit dirasionalkan. Alasannya, Ayatullah Khomeini sendiri sebelum revolusi sebenarnya tidak terlalu resisten di Barat. Puluhan tahun  bahkan sejak remaja ia hidup di Prancis, termasuk di masa pengasingan saat Reza Pahlevi memimpin Iran. Baru menjelang revolusi ia pulang ke Iran.  Guru Khomeini sendiri yaitu Ayatullah al-Kashani disebut-sebut adalah agen CIA. Meski Reza Pahlevi, pro-AS, namun kabarnya CIA terlibat dalam revolusi Iran. Selama perang Irak-Iran, Iran diam-diam membeli senjata ke Israel dengan bantuan AS. Kasus ini terkenal dengan “Iran-Gate”.
Sebutan “AS adalah Setan Besar” dari Iran sama sekali tidak membangkitkan AS untuk menginvasi Iran. Padahal Iran sendiri juga menyimpan senjata Nuklir. Bandingkan dengan invasi AS ke Afganistan dan Irak. AS cukup berbekal asumsi, tidak bukti, untuk menyerang kedua Negara itu. Irak dituduh menyimpan senjata kimia. Belakangan tuduhan tidak terbukti. Afganistan diserang tanpa ba bi bu dengan tuduhan melindungi Osama bin Laden.
Ketika pecah perang Irak-Iran selama 8 tahun. Iran mendapatkan keuntungan politis. Pasca perang panjang itu, Irak langsung dimusuhi AS. Bahkan Negara-negara Arab juga terprovokasi Barat memusuhi Irak. Padahal Irak, paling berani melawan Israel. Beberapa rudal Scud-nya mendarat di Tel Aviv, ibukota Israel. Kenyataannya sekarang, Iran tidak pernah terlibat perang langsung dengan AS.
Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa bantuan-bantuan Iran terhadap Negara-negara Muslim tidak gratis. Sebab di balik bantuan tersebut mereka membawa misi Syiah. Di Palestina, HAMAS, mungkin saja ‘terpaksa’ dibantu Iran melawan Israel. Namun, jika rasio kita menganalisis sepak terjang gerakan politik Iran seperti di atas, maka bantuan itu tidak gratis. Ada misi besar. Yaitu, seperti kata Vali Nasr, menarik simpati untuk membangun imperium Syiah di Timur Tengah. Irak telah menjadi Syiah, berikutnya siapa lagi…? Yang jelas, lembar sejarah Islam tidak pernah lupa bahwa di Perang Salib II, Syiah berkhianat melemahkan tentara Islam. Maka, Gaza-Palestina tidak boleh jatuh ke tangan Israel dan Syiah. Kita ingin Gaza-Paletina di pangkuan Islam
Sumber: Undergroundtauhid.com
(saifalbattar/arrahmah.com)
- See more at: http://www.arrahmah.com/kajian-islam/suriah-masa-depan-gaza-dan-ancaman-kebangkitan-syiah.html#sthash.bzJUQDK3.dpuf

Surat kabar Polandia : Warga Eropa beramai-ramai pergi ke medan Jihad Suriah

Sebuah surat kabar utama di Warsawa, Gazeta Prawna, mempublikasikan artikel berjudul “Warga Eropa pergi untuk berjihad di Suriah” di mana mengungkapkan pendapatnya mengenai partisipasi Mujahid asing di Suriah, lansir KC.  Surat kabar itu menulis :
“Negara ini menarik gerilyawan dari seluruh dunia.  Memiliki kesempatan untuk menjadi tempat pelatihan bagi ‘teroris’.”
Seorang komandan Kaukasia, Abu Omar al-Chechen mengumumkan pembentukan brigade yang menyatukan Mujahid dari seluruh negara.
Sebelum itu ia adalah komandan Brigade Muhajirin yang bertempur bersama dengan Jabhah an-Nushrah.  Suriah menarik banyak dan semakin banyak pejuang asing dan memainkan peran seperti Afghanistan sebagai basis untuk pelatihan “teroris” (baca : Mujahidin-red), menurut artikel tersebut.
Baru-baru ini, Abu Abdul Rahman, mantan anggota Hamas Palestina, dilaporkan syahid (In syaa Allah) dalam serangan roket.  Kemudian Abu Kamal juga gugur dalam pertempuran dengan pasukan rezim Suriah.  Seorang pemuda Swedia berusia 22 tahun, yang sebelumnya bertempur dalam jajaran Jabhah an-Nushrah, kini berada di bawah komando Abu Omar al-chechen.
Menariknya, warga Swedia telah lama berada dalam perang ini.  Di bulan November 2012, sebuah kelompok yang menamakan diri  Pejuang Suci Swedia di Suriah mempublikasikan video di mana mereka mengatakan siap untuk bergabung dengan medan Jihad di mana saja di bumi ini.
Beberapa bulan lalu, media Denmark melaporkan kematian seorang pejuang, Slimane Hadj Abdelrahman, yang ibunya adalah Denmark dan ayahnya Aljazair.  Pada tahun 2001-2004 ia ditahan di Guantanamo.
Informasi mengenai pembentukan Brigade Muhajirin dan Anshar diterbitkan pada akhir Maret di situs Kavkaz CenterKC melaporkan bahwa pejuang Islam dari berbagai negara memiliki jumlah lebih dari seribu orang.
Menurut laporan surat kabar tersebut, semakin lama perang berlanjut, maka akan semakin banyak unsur-unsur asing yang masuk.  Karena kekacauan yang terjadi di sana, mereka dapat dengan mudah bersembunyi, ujar Marcin Zoborowski, direktur Institut Polandia untuk Urusan Asing.  Mereka memiliki pengalaman tempur yang baik, lanjutnya.